Thursday, September 15, 2011

NGO Sorot Peta Moratorium Hutan Indonesia

Hari ini Greenpeace bersama Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencoba menerjemahkan draft moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan yang saat ini beredar baik dari versi Kementerian Kehutanan maupun REDD+ task force (Satgas REDD+). 

Draft Moratorium tersebut diuraikan dalam bentuk peta indikatif moratorium dan data olahan yang menunjukkan luasan yang akan dicakup dalam moratorium berdasarkan skenario draft Kementerian Kehutanan, REDD+ task force dan Platform Bersama Penyelamatan Hutan dari Organisasi Masyarakat Sipil.

Hasil olahan data dan peta menunjukkan bahwa draft moratorium versi Kementerian Kehutanan pada dasarnya hanya melindungi hutan primer dan lahan gambut tersisa. Bila merujuk data Kementerian Kehutanan (2006) maka sebenarnya yang menjadi obyek moratorium hanyalah kawasan konservasi dan kawasan lindung yang selama ini sudah dilindungi oleh peraturan perundangan ada dan berlaku saat ini.

Sedangkan dari draft moratorium versi REDD+ task force menunjukkan cakupan moratorium yang sedikit lebih luas di banding draft versi Kementerian Kehutanan. Penerjemahan Platform Bersama Penyelamatan Hutan Indonesia dan Iklim Global dari organisasi masyarakat sipil dalam peta dan angka menunjukan cakupan moratorium hutan yang jauh lebih luas.



Ketiadaan definisi dan ukuran yang jelas dalam draft moratorium berpotensi untuk terjadinya kesimpangsiuran dan kekacauan dalam pelaksanaannya nanti. Di pihak lain, salah satu pemain besar perkebunan sawit melangkah maju dengan mengumumkan kebijakan terbaru mereka untuk berhenti mengkonversi hutan. Hal ini bisa menjadi dukungan dan rujukan karena kebijakan perusahaan tersebut merupakan dukungan atas pelaksanaan moratorium yang jelas dan terukur.

Ukuran 35 ton karbon per hektar menjadi batas yang jelas untuk perlindungan hutan.Orientasi peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai tambah produk yang dihasilkan bisa menjadi arah kebijakan pembangunan industri ekstraktif Indonesia, tanpa harus mengorbankan hutan yang masih tersisa serta menghentikan deforestasi.

"Komitmen dan keseriusan Presiden SBY untuk menurunkan emisi sebesar 26%-41% yang utamanya bersumber dari deforestasi sedang diuji, jika Presiden gagal mewujudkan moratorium yang bisa melindungi hutan dan lahan yang bernilai konservasi tinggi, mempunyai nilai simpanan karbon tinggi, mempunyai nilai sosial dan kultural, artinya Presiden tidak serius dengan komitmen penurunan emisi dari deforestasi. Ini artinya juga Presiden tidak berhasil menjamin hak dasar rakyat Indonesia untuk bisa menikmati lingkungan hidup yang baik dan sehat, Kehancuran hutan dan tingginya emisi yang diakibatkannya serta dampak perubahan iklim yang menyertai jelas lebih banyak akan meyengsarakan rakyat Indonesia," ujar Yuyun Indradi, Penasihat Politik Greenpeace Asia Tenggara.



Dalam beberapa bulan terakhir secara terang-terangan kelompok industri terus menerus mengumbar ancaman terhadap komitmen perlindungan hutan Presiden SBY, dengan motif meremehkan komitmen Presiden SBY dan tetap berkeinginan untuk melanjutkan penghancuran hutan Indonesia.

Sementara itu Teguh Surya dari Walhi menyatakan, rekomendasi Menteri Kehutanan agar moratorium hanya mencakup hutan primer adalah merupakan rekomendasi yang tidak efektif dalam upaya perlindungan hutan Indonesia.

Sedangkan Giorgio Budi Indarto dari ICEL menyatakan, “dari kacamata hukum, ada kekhawatiran bahwa aturan moratorium itu tidak terimplementasi dengan baik. Perlu ada restrukturisasi dan perbaikan di bidang hukum, jika tidak maka dikhawatirkan moratorium tidak akan ada artinya.”

“Makin menunjukkan bahwa masalah utama dalam moratorium ini adalah Menteri Kehutanan itu sendiri, karena masih berorientasi pada ekonomi kayu. Terkait Peraturan Presiden, ada tiga langkah yang harus dilakukan. Pertama, di masa ini pemerintah harus menghentikan pengeluaran dan perpanjangan izin. Kedua, harus ada upaya segera penyelamatan hutan-hutan yang paling terancam, dan terakhir adalah penyelesaian masalah-masalah sosial,” Teguh menegaskan.

Bersama Lembaga-Lembaga Swadaya Masyarakat lain, Greenpeace terus menyerukan perlindungan segera terhadap seluruh lahan gambut dan menerapkan moratorium di semua hutan alam baik pada izin baru maupun pada izin yang telah ada.



Link : http://greenpressnetwork.blogspot.com/2011/02/ngo-sorot-peta-moratorium-hutan.html

Letusan Tambora (1815) “Sumber Bencana Yang Tidak Diketahui”



02Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa bagian dari Indonesia yang saat itu masih dikuasai oleh Belanda. Letusan Tambora setidaknya menewaskan 70.000 orang di pulau Sumbawa akibat dari letusan langsung, wabah penyakit dan kelaparan. Letusan Gunung Tambora yang terkenal itu terjadi pertama kali pada tanggal 5 April 1815 yang suara letusannya terdengar hingga Batavia (1.300 km dari pusat erupsi) dan Ternate (1.400 km dari pusat erupsi). Di Batavia saat itu tentara Belanda segera bersiap mengira akan ada serangan dari bala tentara Mataram sedangkan di Ternate armada kapal perang segera disiapkan mengira akan adanya serangan dari para bajak laut.
Letusan terbesar terjadi pada 10 April 1815 termasuk ke dalam index 7 VEI (Volcanic Explosivity Index) yang oleh para volkanologist disebut Sangat Luar Biasa (Colossal). Suara letusannya terdengar cukup jelas hingga Sumatera bagian barat yang secara geografis terletak 2.500 km sebelah barat Tambora. Getaran dan gelombang udara akibat letusan tersebut terasa hingga 800 km di Jawa bagian timur. Debu vulkanik terus berjatuhan secara gradual hinggal tanggal 17 April 1815.

Pemukiman yang terdekat dengan Tambora adalah Bima (65 km timur Tambora) dan Sanggar (40 km di timur pusar erupsi). Seorang Raja dari kerajaan kecil di Sanggar  menggambarkan bahwa letusannya menghasilkan tiga kolom erupsi yang membumbung di angkasa membentuk kanopi. Desa Bima, seluruh rumahnya tertutupi oleh debu vulkanik. Bima dan Sanggar juga tersapu oleh gelombang tsunami yang meratakan pemukiman mereka, penduduk berbondong-bondong melarikan diri menuju ke tempat yang mereka anggap aman, sebagian besar diantaranya tewas akibat terjangan gelombang ini.
Dalam investigasinya, Raffles menemukan mayat-mayat manusia yang mengapung di lautan maupun di terhampar di daratan. Charles Lyell (1797-1875) dalam bukunya Principles of Geology menuliskan bahwa akibat letusan ini populasi penduduk 12.000 di Tambora tersisa hanya 26 individu. Heinrich Zollinger seorang misionaris pada tahun 1855 mengestimasi jumlah korban akibat letusan Tambora adalah sekitar 10.000 manusia.
03Debu volkanik yang dimuntahkan oleh Tambora melingkupi daerah seluas 500.000 km2. Akumulai debu vulkanik di angkasa yang sangat banyak menyebabkan area seluas 300 km2 di sekitar Tambora tertutup sinar matahari selama 3 hari. Ketebalan debu volkanik akibat letusan ini tercatat 100 cm di Sumbawa, 60 cm di Lombok dan 30 cm di Bali. Debu volkanik yang asam juga meracuni persawahan, menutupi saluran irigasi dan mematikan tanaman perkebunan lainnya. Kelaparan merebak di Pulau Sumbawa menjangkiti 38.000 penduduk dan 36.000 lainnya meninggalkan pulau menuju Jawa. Di Lombok 20.000 penduduk meninggal akibat kelaparan dan 100.000 lainnya migrasi menuju Pulau Jawa. Pulau Jawa saat itu sudah padat penduduk sehingga terjadi konflik sosial akibat migrasi tersebut.
Batu apung yang terbentuk akibat letusan sangat melimpah ditemukan di Laut Jawa. Selama hampir 4 tahun, batu apung ini masih bisa ditemui oleh kapal-kapal yang melintas perairan ini.
Erupsi Tambora juga menyebabkan perubahan cuaca di seluruh penjuru dunia. Di India, menyebabkan perubahan pola arah angin sehingga menyebabkan kekurangan hujan di sebagian besar daratan di India dan wabah kekeringan terjadi pada 1816. Kebalikannya, di Bangladesh pola angin yang membawa hujan menyebabkan bencana banjir pada bulan september. Hal yang serupa juga terjadi di China akibat luapan dari sungai Yangtze dan Yellow.
Kekeringan yang terjadi di India menyebabkan wabah penyakit kolera berkembang dengan cepat hingga ke Afganistan dan Nepal. Di Mekah dan Madinah wabah ini dibawa oleh para jemaah haji dari daerah sumber wabah. Pada tahun 1823, wabah kolera telah sampai di laut Kaspia dan sampai di Moskow pada 1830. Tahun berikutnya di Mesir, Kairo kehilangan 12% populasinya akibat wabah ini.
Data cuaca pada abad ke-19 mencatat terdapat perubahan iklim setelah letusan 1815. Pada 1816 tercatat suhu rata-rata di permukaan 10 derajat celcius turun dari normal. Pendinginan global ini terbentuk dari molekul gas sulfur dioksida letusan Tambora di angkasa yang terbawa oleh angin memenuhi atmosfer dunia dan berada di atas awan sehingga tidak tersapu oleh hujan selama beberapa tahun. Tudung gas asam sulfur ini menghalangi sinar matahari yang masuk dan mendinginkan suhu bumi.
Pada tahun 1816-1817 di Eropa pada saat musim panas suhunya tetap dingin dan basah sehingga perkebunan mengalami kegagalan panen. Hasilnya, kelaparan terjadi di Eropa terutama di perkotaan. Di Paris tercatat beberapa orang meninggal karena kelaparan. Hal yang serupa terjadi di Irlandia, yang terjangkiti juga dengan wabah tipus karena kondisi kesehatan yang buruk. Setidaknya 100.000 orang meninggal akibat wabah ini di Eropa.
Tidak ada yang paham penyebab perubahan cuaca, gagal panen, kelaparan selama bertahun-tahun. Banyak orang yang menuduh hal ini terjadi karena turunnya moralitas dengan menurunnya kedatangan orang di rumah ibadah. Beberapa menyalahkan sinar matahari, pendinginan es di Samudera Atlantik tetapi tidak ada yang menyalahkan letusan gunungapi yang terjadi separuh dunia jauhnya dari Eropa yang merupakan penyebab utamanya. 60 tahun kemudian setelah letusan Krakatau terjadi pada 1883, para ahli meneliti dampak letusannya barulah menyimpulkan hal yang serupa yang terjadi pada kurun 1816-1817 akibat letusan Tambora 1815.
Sumber tulisan dan gambar : Volcanoes in Human History (2002)
http://iwantolet.wordpress.com/2009/09/30/letusan-tambora-1815-%E2%80%9Csumber-bencana-yang-tidak-diketahui%E2%80%9D/
Link : 

Monday, September 12, 2011

Seram, Kota Hantu Muncul di New Mexico
Headline
cbc.ca
Oleh: Billy A. Banggawan
Teknologi - Rabu, 7 September 2011 | 11:07 WIB 
 
INILAH.COM, Alburquerque – 
New Mexico menjadi rumah beberapa institusi ilmiah, nuklir dan militer. Kini negara itu berencana ambil bagian membuat kota hantu. Seperti apa?
Proyek sains seukuran kota kecil di Amerika Serikat (AS) ini merupakan bagian rencana perusahaan teknologi yang berbasis Washington yang diumumkan Selasa (6/9). Proyek pembangunan kota hantu terbaru ini merupakan model metropolis 50 kilometer persegi.
Kota hantu ini nantinya digunakan menguji segala hal, mulai dari inovasi energi terbarukan hingga sistem trafik intelijen, jaringan nirkabel generasi baru dan sistem keamanan cyber pintar. Nantinya seperti dikutip Strait Times, tak akan ada orang tinggal di kota hantu ini.
Meski begitu, model replika kota hantu ini dibuat berdasarkan kota AS yang umumnya ditempati 35 ribu orang, lengkap beserta jalan aspal, rumah dan bangunan komersil.
CEO Pegasus Global Holdings Bob Brumley mengatakan, proyek bernama The Center yang bernilai US$200 juta (Rp1,7 miliar) ini menjadi proyek sejenis pertama yang pernah dibuat.

 

Sunday, September 11, 2011

My Adventure (off the road)
Melintasi bekas anak sungai............

Saturday, September 10, 2011

Gua Tengkorak, Kalimantan Timur Photo Gallery by Archiaston Musamma Family at pbase.com

This small cave contain human skull and skeleton. We don't know it's age perhaps hundreds year. Located in Pasir, East Kalimantan, Indonesia

Goa Tengkorak adalah sebuah lubang di tebing pada ketinggian 20 meter. Lubang tsb. memiliki tinggi sekitar 1,5 meter, lebar 2 meter, panjang 3 meter. Di ujung lubang terdpt lorong dgn lubang sempit yg harus dimasuki dgn merayap didalam dijumpai ruangan lain yg cukup luas dgn panjang kira2 10 meter dan tinggi 20 meter. Disana ada ornament gua yg cukup bagus. Lubang diatap gua, merupakan jalur laluan air yg membentuk lubang gua tsb. dan rekahan2nya membentuk stalagtit.

GOA ini berisi 35 tengkorak kepala dan ratusan tulang yg merupakan sisa jazad nenek moyang warga setempat. Untuk masuk kedalam ruangan kedua, tak pelak lagi badan menyenggol jazad2 ini krn sempitnya laluan. Untungnya tak banyak tangan2 jahil yg menganggap ini sebagai cendera mata. Tidak ada penjaga disana. Umur dari jazad tsb kurang diketahui dgn jelas. Beberapa kuburan diluar menggunakan aksara Arab.

Gua Tengkorak, Kalimantan Timur Photo Gallery by Archiaston Musamma Family at pbase.com

2012 Volkswagen Touareg SUV Features | Volkswagen

2012 Volkswagen Touareg SUV Features | Volkswagen

http://www.vw.com/en/models/touareg/features.html

Friday, September 9, 2011

Pohon Ulin Tua di Taman Nasional Kutai


Di dalam taman nasional ini terdapat sebuah kawasan menakjubkan, sebuah pohon ulin berusia 1.000 tahun yang masih hidup, berdiri tegak menyapa setiap wisatawan. Pohon ini hanya setinggi 25 meter karena batangnya terpotong oleh sambaran petir pada 1920-an.

Pohon tua itu bukan sembarang kayu ulin atau dikenal kayu besi karena ukurannya mencapai 3-4 kali batang pohon ulin biasa. Keberadaan pohon ulin raksasa itu sepertinya menjadi “monumen hidup” tentang nasib hutan tropis di Kalimantan Timur dan kelestarian kayu besi di Indonesia.

Pohon Ulin Tua di Taman Nasional Kutai

Haruskah Pohon Ulin Tinggal Nama?

Haruskah Pohon Ulin Tinggal Nama?

Pertanyaan tersebut mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita atau bahkan kita tak pernah ingin memikirkannya. Namun, tahukah anda akibat dari ketidakpedulian bersama ini? Dulunya tanaman ini hanyalah spesies biasa yang sangat mudah dijumpai, terutama di daerah hutan tropis Kalimantan ataupun beberapa daerah di Sumatera. Namun belakangan, sangat sulit bagi mata kita untuk mendeteksi keberadaan pohon ini. Bak ditelan bumi, tak ada yang menyangka hanya dalam waktu beberapa tahun saja pohon ini telah mendapat predikat sebagai “Tanaman langka”. Di Kalimantan Selatan misalnya, diperkirakan populasi ulin yang bertahan hingga saat ini tinggal dua puluh persen saja dibandingkan dengan kondisi 40 tahun lalu.

Nama lain dari pohon ulin adalah pohon kayu besi. Sebenarnya, pohon ulin (eusideroxylon zwageri) adalah salah satu pohon yang terkenal dari hutan Kaltim dengan ciri kayunya keras dan kuat, warna gelap, dan tahan terhadap air laut. Tinggi pohon ulin mencapai 50 m dengan diameter hingga 120 cm bertekstur sangat keras serta dapat tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Pohon ini agak terpisah dari pepohonan lain dan dikelilingi jalur jalan melingkar dari kayu ulin. Di bagian bawah pohon ada bagian yang berlobang. Jenis kayu dari pohon ulin ini tidak mudah lapuk baik di air maupun daratan. Itulah sebabnya kayu ini banyak dipakai sebagai bahan bangunan khususnya untuk rumah yang didirikan di atas tanah berawa.

Kayu ulin tidak hanya kuat namun eksotis. Terbukti, Di Pulau Jawa, kayu yang dikenal dengan nama kayu besi itu biasa digunakan untuk bantalan rel kereta api. Selain itu, Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, atap kayu (sirap), papan lantai, kosen pintu dan jendela, bahan untuk bangunan jembatan, dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. tak sekadar bernilai ekonomis tinggi dari nilai kayunya, ternyata ulin juga dapat dijadikan sebagai pohon obat. Ada tiga jenis bagian dari kayu ulin yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan yaitu daun muda, esktrak biji, dan buahnya. Sementara itu, bagi pengrajin batu perhiasan, ternyata kayu ulin yang telah membatu dapat diasah menjadi perhiasan yang tidak kalah dengan batu-batu yang telah dikenal. Harganyanya pun tergolong mahal, yaitu berkisar antara tiga puluh lima ribu rupiah hingga jutaan rupiah.

Namun, siapa sangka dibalik multi manfaat yang disuguhkan oleh pohon ulin, ternyata tersimpan sekelumit masalah besar yang harus diselesaikan bersama. Kepunahan spesies ini semakin tampak di pelupuk mata. Exploitasi penebangan kayu yang kurang terkontrol dimasa lalu, serta disebabkan pula adanya kebakaran hutan, membuat populasi pohon ulin menyusut drastis. Apalagi, Ulin termasuk pohon yang sulit berkembang di tempat terbuka. Pohon ini termasuk vegetasi yang berkembang lambat. Dalam satu tahun, diameter pohon kurang dari 1 cm. Ini berbeda dengan meranti yang bisa mencapai 1,5-2 cm. Pada usia 40 tahun diameter ulin mencapai 36 cm. Baru pada usia 100 tahun diameter ulin bisa 50 cm. Karena perkembangannya yang tergolong lambat itulah jarang sekali ada masyarakat yang mengembangkannya. Kalaupun ada hanya sebagai tanaman sampingan dari lahan kosong mereka.

Sekarang untuk mencari pohon ulin berdiameter 20 sentimeter sulit sekali. Saat pohon berdiameter 10 cm sudah ada orang yang menebangnya. Data Balai TN Kutai menyebutkan bahwa sampai 2004 kebakaran akibat kelalaian manusia telah merusak sekitar 146.080 Ha atau 80 persen dari luas kawasan itu.
Kerusakan itu diperparah lagi oleh pembalakan liar dan perambahan, terbukti selama 2001-2004, jumlah kayu ilegal yang disita mencapai 246.082 meter kubik (M3). Balai memperkirakan kerugian negara mencapai Rp271,6 miliar. Data ini belum termasuk kasus pada 2007 dan 2008. Kenyataan dilapangan juga menunjukkan bahwa populasi pohon ulin semakin terancam punah. Buktinya, terlihat dari keberadaan kayu ulin di pasaran, terutama pada kios bangunan. Harga bahan bangunan untuk jenis kayu ulin di gudang kayu log nasional Kaltim sendiri sudah melangit antara Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per meter kubik. Hal itu menandakan bahwa keberadaan kayu ulin kian langka. Bahkan saya sendiripun tak pernah tahu secara langsung bentuk pohon ulin yang masih hidup di alam bebas. Jika hal ini terus - menerus dibiarkan, tak dapat dipungkiri jika lima belas tahun kedepan pohon ulin hanya tinggal sejarah. Pohon ulin hanya akan hidup dan dapat disaksikan melalui foto ataupun gambar dari dunia maya(internet). Tegakah kita membiarkan semua itu terjadi? Tentu saja tidak.

Untuk menghentikan kerusakan hutan, terutama menyelamatkan populasi pohon ulin dari jurang kepunahan, tentunya diperlukan usaha bersama. Tak cukup satu atau dua orang saja yang menyelamatkan, sementara yang lain tidak mempedulikan. Tetapi semua wajib melestarikan. Apalagi, pengembangbiakan kayu ulin sangat sulit dan butuh perlakukan khusus karena pohon ini tidak bisa tumbuh pada semua kawasan hutan Biasanya tumbuh pada dataran tinggi dengan tanah berpasir. Pengembangbiakan secara benih sangat sulit. Buah pohon ini sama kerasnya dengan kayu ulin sehingga untuk membelahnya hanya bisa digergaji karena mata kampak yang tajam pun akan terpental, sehingga pengembangbiakannya hanya dengan cara indukan. Mengingat betapa sulitnya mengembangkan pohon ini, kita seharusnya berupaya melindungi pohon ini, bukannya berlomba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya di tengah nasib ulin yang sudah di ujung tanduk ini.

Langkah nyata untuk menyelamatkan hutan tropis tempat pohon ulin bermukim dengan melakukan pengawasan ketat terhadap penebangan liar serta rehabilitasi dan reboisasi. Selain itu, pohon yang telah ditaman tidak boleh ditebang sebelum waktunya. Di lain sisi, Pemerintah juga harus menerapkan sanksi tegas terhadap pelaku illegal loging ini. Jika semua telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan, kemungkinan terselamatkannya populasi ulin semakin besar. Kini saatnya kita sendiri yang menentukan, apakah lima belas tahun ke depan kita masih ingin melihat pohon ulin hidup sebagai tanaman khas kalimantan, ataukah membiarnya hilang dari peradaban dan hanya menjadi sejarah kegagalan kita dalam pelestarian hutan sebelum lima belas tahun kedepan. Jawabannya, tentu ada pada nurani masing-masing.


Haruskah Pohon Ulin Tinggal Nama?

Thursday, September 8, 2011

Tak terasa sepuluh tahun berlalu sejak 19 teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat penumpang komersial Amerika Serikat (AS) dan menabrakkan mereka ke Menara Kembar World Trade Center (WTC) dan Pentagon. (Pesawat keempat, yang seharusnya diarahkan ke Gedung Parlemen AS atau Gedung Putih, jatuh di sebuah ladang kawasan pedesaan di Pennsylvania dan menewaskan seluruh penumpang di dalamnya).

Diperkirakan 3000 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam peristiwa yang jadi berita terbesar di zaman modern itu. Di balik semua kisah tragis dan menyeramkan, terdapat fakta-fakta mengejutkan yang mungkin belum Anda ketahui.

http://id.berita.yahoo.com/fakta-di-balik-11-september.html 

Negara Terkaya di Dunia yang luput dari perhatian... :(

Banyak sebenarnya yang tidak tahu dimanakah negara terkaya di planet bumi ini, ada yang mengatakan Amerika, ada juga yang mengatakan negera-negara di timur tengah. tidak salah sebenarnya, contohnya Amerika. negara super power itu memiliki tingkat kemajuan teknologi yang hanya bisa disaingi segelintir negara, contoh lain lagi adalah negara-negara di timur Tengah.

Rata-rata negara yang tertutup gurun pasir dan cuaca yang menyengat itu mengandung jutaan barrel minyak yang siap untuk diolah. tapi itu semua belum cukup untuk menyamai negara yang satu ini. bahkan Amerika, Negara-negara timur tengah serta Uni Eropa-pun tak mampu menyamainya.
dan inilah negara terkaya di planet bumi yang luput dari perhatian warga bumi lainya. warga negara ini pastilah bangga jika mereka tahu. tapi sayangnya mereka tidak sadar "berdiri di atas berlian" langsung saja kita lihat profil negaranya.

Negara terkaya yang luput dari perhatian 

VIVAnews - Hotel Luar Angkasa Mulai Dibuka 2012

Hotel Luar Angkasa Mulai Dibuka 2012


Calon tamu hotel harus membayar 3 juta euro (sekitar Rp 42,2 miliar) untuk tarif 3 malam


Selasa, 3 November 2009, 09:08 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati

Gambar satelit Iridium mengorbit di atas bumi (AP Photo/NASA)

VIVAnews - Mulai tahun 2012, para turis yang berwisata ke luar angkasa bisa menginap di suatu hotel khusus yang mengitari Bumi. Pembangunan resor angkasa luar "Galactic Suite Space Resort" tersebut berhasil terwujud berkat ambisi seorang miliarder, yang sampai mengucurkan dana US$3 miliar.

Namun para calon tamu hotel harus membayar 3 juta euro (sekitar Rp 42,2 miliar) agar bisa menginap selama tiga malam. Sebelum terbang ke luar angkasa, calon tamu juga harus menjalani pelatihan di sebuah pulau tropis selama delapan pekan.

Seperti dikutip dari laman harian Daily Mail, Senin 2 November 2009, meski harga dan waktu yang diperlukan untuk menikmati fasilitas mewah itu tampak tidak masuk akal, lebih dari 200 orang sudah tertarik untuk menginap, Bahkan 43 orang diantaranya sudah melakukan reservasi.

CEO Galactic Suite Ltd dan mantan teknisi misi luar angkasa, Xavier Claramunt, mengatakan proyek ini akan menjadikan perusahaannya berada di barisan paling depan dalam industri amatir dengan masa depan cerah. Dia juga memprediksi bahwa wisata ke luar angkasa akan menjadi salah satu bentuk lain perjalanan wisata populer.


VIVAnews - Hotel Luar Angkasa Mulai Dibuka 2012

Bicygnals LED Bicycle Lights | GeekAlerts

For all you bikers out there, safety is a must. These Bicygnals LED Bicycle Lights allow you to keep both hands on the bars while you signal for left and right hand turns and they have a working headlight and taillight. With gas prices continuing to skyrocket, get out your bike, get some exercise and save save money. When you do, these wireless indicators with powerful LED lights will help protect you from the always distracted and sometimes confused car drivers out there.

These ingenious bicycle lights feature wireless indicators that can be operated with a flick of the thumb – no frantic arm-waving required. Brilliant! Wireless technology enables both front and rear indicators to work in perfect sync. Simply slide each sleek light cluster onto the adjustable clamps and you’re away.

If you’re worried about getting your hi-tech lighting system pinched, worry not. Bicygnals slip off their clamps in seconds and both units slot together to fit in a nifty carry case. Thinking about it, it’s worth buying a bike just to champion the cause of these potential life-savers. They look pretty cool too.

Bicygnals Bicycle Lights

Bicygnals LED Bicycle Lights

  • Detachable front and rear bicycle lights with integrated wirefree indicators
  • Complies with Road Vehicle Lighting Regulations
  • Wireless communication
  • 5 super bright white LED’s head light
  • 3 super bright red LED’s rear light
  • Flashing and Non-flashing Lighting Modes
  • 8 super bright orange LED’s front indicators
  • 6 super bright orange LED’s rear indicators
  • Side visibility


Bicygnals LED Bicycle Lights | GeekAlerts

VIVAnews - Mobil Masa Depan Pakai Reaktor Nuklir?

VIVAnews - Mobil Masa Depan Pakai Reaktor Nuklir?

VIVAnews - Pada Chicago Auto Show tahun 2009 lalu, Cadillac memperkenalkan World Thorium Fueled, konsep kendaraan mereka yang menggunakan bahan bakar energi nuklir. Meski ketika itu mobil itu belum dipasangi reaktor nuklir, teknologi itu disebut-sebut bisa diwujudkan.

Benar saja. Charles Stevens, peneliti dari Laser Power Systems, perusahaan riset dan pengembangan asal Massachusetts, Amerika Serikat berhasil membuat prototipe laser bertenaga thorium yang bisa dipakai untuk memproduksi energi yang cukup untuk menggerakkan kendaraan.

Kelebihannya, menurut sebuah laporan di Txchnologist, teknologi ini tidak menghasilkan emisi gas buang.

Berbeda dengan reaktor nuklir bertenaga thorium berskala kecil yang digunakan pada konsep mobil buatan Cadillac, prototipe sistem yang dibuat oleh Steve menggunakan laser “MaxFelaser” berbahan bakar thorium.

Disebutkan, pancaran sinar MaxFelaser itu bisa mengubah air menjadi uap bertekanan, memutar turbin dan menghasilkan listrik. Sistem itu bisa memproduksi listrik hingga 250 kilowatt (setara dengan sekitar 335 tenaga kuda), memiliki berat sekitar 227 kilogram dan bisa dipasang di mobil.

Kedengarannya memang luar biasa. Tetapi apakah konsep ini realistis?

Monday, August 22, 2011

SEKAPUR SIRIH DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Bagian pertama buku ini tumbuh dari sebuah catatan tulis tangan yang dibuat oleh Lamaseude,seorang guru sekolah rakyat di Long Iram yang berasal dari suku Bugis, yang juga seorang pejuang di zaman transisi penjajahan Belanda – Jepang. Dibantu oleh HImang Hurai Kepala Adat Mamahak, Guru Kaya gelar Mas Macan Wono kepala SD negeri Tiong Ohang yang juga kepala adat suku  Auheng (Penihing) di Long Apari. Lamaseude juga mendapat bantuan dari W. Hirang Juk penilik sekolah di Long Pahangai  dan M Said Kepala Kampung Mamahak Besar yang kesemuanya telah lama berpulang.

Catatan dalam bahasa dan ejaan lama hampir sukar dipahami sangat menyulitkan penulis ketika menyusun buku ini. Namun, berkat bantuan beberapa rekan, catatan ini dapat disuguhkan menjadi seperti sekarang ini.

Sesungguhnya, catatan Lamaseude inl berasal dari ayah penulis, (aim.) Achmad Koesasi ketika beliau menjabat sebagai Wedana di Long Iram. Diperiksa, diberi tambahan bah an dan dibenarkan oleh paman penulis, Hj.Mochamad Yusuf (alm) yang bersama teman-teman dan saudaranya memang terlibat dalam kejadian-kejadian yang terdapat dalam catatan tersebut.

Catatan kemudian dilengkapi oleh penulis Flora Inglin, yang membentuk team peneliti dan penyusun untuk mengolah, membuatnya menjadi sebuah buku seperti yang sekarang ada di hadapan Anda. Selanjutnya, buku ini disusun oleh kelompok kerja yang diketuai oleh Gunanto Bimo yang sekaligus menjadi tenaga yang sangat berdaya guna sebagai periset, editor, desainer grafis dan fotografer.

Flora Inglin sendiri terlahir di Long Iram pada tanggal 10 Mei tahun 1938, tumbuh besar di daerah yang sekarang disebut kabupaten Kutai Barat, kini tinggal di Jakarta, bersama suaminya mendirikan dan menjadi ketua sebuah yayasan bernama: Yayasan Bina Putra Hulu Mahakam (YBPHM).

Flora Inglin terlahir sebagai anak pertama dari Achmad Koesasi dan Putri Ping, yaitu putri Ajang Djo, Raja Dayak di Long Lunuk, Kemudian Ping diangkat anak oleh Raja Dayak di Datah Lingei bernama Ding Ngo,yang dikenal dengan julukan Lawak Ireng. Putri Ping dipersiapkan sebagai calon raja Datah Lingei oleh ayah angkatnya, Ding Ngo. Putri Ping menjadi Kepala Adat dari suku Dayak Bahau setelah menikah dengan Ahmad Koesasi. Sampai saat ini Flora Inglin masih disambut dan dihormati oleh masyarakat Dayak di Hulu Mahakam - Kutai Barat.

Kecintaan Flora terhadap leluhurnya di hulu Mahakam demikian kuat, sehingga tidak mungkin mencegahnya untuk berbuat sesuatu bagi daerah asal suku ibunya. Apalagi melihat masyarakat hulu Mahakam yang terpuruk akibat keterpencilan lokasinya terpenjara oleh kiham-kiham yang sangat berbahaya antara Long Bagun sampai Long Tuyoq.

Pada zaman dahulu kiham-kiham di hulu sungai Mahakam memang berfungsi sebagai benteng alam yang melindungi suku-suku Dayak di hulu dari 'serangan' kerajaan Kutai.Tapi kini di dalam negara kesatuan RI, kiham-kiham itu berbalik fungsi menjadi penghabat kemajuan.

Di hari tuanya, Flora Inglin dengan YBPHM ingin membaktikan hidupnya pada daerah tumpah darahnya. Buku ini adalah salah satu sumbangannya. Dengan demikian sudah pada akarnya jika buku ini bermula dari suatu desa kecamatan yang bernama Long Iram.

Pada Bagian kedua, buku ini mulai membahas daerah hulu Mahakam. Mulai dari keberadaannya sekarang sebagai daerah yang terletak dalam Kabupaten Kutai Barat. Cakupan telaah meliputi aspek sosio-budaya dan merekam juga situasi peta politik dewasa ini di Kutai Barat. Bahasan buku juga antara lain menyisiri berbagai lapangan wacana yang berpengaruh terhadap potret hulu Mahakam masa kini seperti :

ü  Keberadaan Budaya suku oayak di zaman modern,
Bahwa kebudayaan Dayak yang sulit bertahan dari serbuan modernisasi yang bersenjatakan teknologi , dipaparkan dari hasil beberapa kali mengunjungi pedalaman Mahakam dan beberapa referensi yang berkaitan.
ü  Sumber daya Alam: Pertambanganl Potensi Bahan Galian, Pertanian, Generasi Muda dan Persoalannya, Transportasi, Pariwisata, SDM Kutai Barat dalam Pembangunan, Energi Listrik, Air Bersih, Komunikasi
Berbagai butir di atas dibahas selaras dengan berbagai data terkini yang berhasil diperoleh, ditambah dengan berbagai komentar dari pemerhati masalah Kubar.

Pada Bagian ketiga, buku ini hendak memberikan proyeksi ke depan kawasan hulu Mahakam secara terpadu, dari berbagai aspek yang dirasa bermanfaat bagi kawasan itu sendiri, maupun sebagai informasi dini bagi yang berkepentingan dengan pengembangan wilayah maupun dunia usaha di sana. Tinjauan mengenai potensi dan hambatan yang dihadapi wilayah hulu Mahakam meluncurkan buah pemikiran dan gagasan yang mungkin dirasa spektakuler ketika dicetuskan pada saat ini, namun gagasan itu sesungguhnya tidak membabi buta, karena gagasan-gagasan itu telah melalui proses pematangan, studi-pengkajian dan konsultasi maraton dengan berbagai pihak profesional yang melelahkan , bahkan menghabiskan dana survey dari kocek YBPHM sendiri yang sangat besar untuk memperoleh fakta dan data yang seakurat dan serunut mungkin sesuai dengan metode pendekatan yang cukup ilmiah.

Gagasan pembuatan bendungan besar (Dam) di hulu Mahakam pada mulanya merupakan wacana intelektual yang mengkristal dari Harry Moerdani , namun kemudian wacana itu ditunjang dengan hasil-hasil ekspedisi yang dilakukan oleh YBPHM, sehingga gagasan itu semakin menemukan bentuknya yang berdimensi.

Penggalian potensi sumber daya alam utama hulu Mahakam bermula dari potensi besar sungai Mahakam itu sendiri. Potensi-potensi berikutnya yang tergali keluar merupakan efek sertaan dari implementasi potensi utama tersebut. Sebut saja beberapa di antaranya seperti pengembangan bisnis pariwisata internasional secara menyeluruh, (meliputi pengembangan sarana, prasarana, pembukaan lokasi, pengelolaan industri kerajinan tradisional, kesenian asli dll.), pengembangan industry besar perikanan (fish mea~, pembukaan areal sawah baru secara total ekstensifikasi.Di samping potensi alam lain seperti pembudidayaan dan pengembangan sarang burung walet, penanganan hasil hutan untuk mencapai nilai tam bah yang optimal.

Seluruh sasaran utama dari setiap konsep yang dipaparkan dalam buku ini adalah melulu menuju dan berazaskan kepada pemberdayaan masyarakat hulu Mahakam secara gradual, terpadu dan terkendali. Oleh karena tanpa adanya manfaat langsung yang akan dirasakan oleh masyarakat hulu Mahakam, maka tujuan pokok sumbang saran,gagasan dan pemikiran dalam buku ini adalah akan sia-sia belaka.

Gagasan-gagasan dalam buku ini nanti hendaknya jangan hanya malah menjadi bahan orasi politik, tapi hendaknya dimanfaatkan sebagai landasan untuk benar-benar memajukan masyarakat hulu Mahakam yang jauh tertinggal dan tak berdaya menatap kekayaan alamnya yang melimpah terus digali dan disedot ke luar daerah mereka tanpa ikut menikmati.

Gagasan-gagasan dalam bag ian ketiga buku ini tidak bisa tidak akan menghasilkan wacana tentang perlu tidaknya eksploitasi hutan di bagian hulu Mahakam dan Boh dihentikan demi terciptanya kelestarian air untuk pembangkitan tenaga listrik sebagai sumber yang terbarukan.

Seperti pada umumnya suatu gagasan yang extraordinary, memerlukan suatu periode, waktu untuk mensosialisasikannya, mengalami berbagai kontroversi dalam perjalanannya, dan bahkan jika telah disetujui pun, perwujudan proyeknya secara fisik juga memerlukan tempo belasan bahkan puluhan tahun. Namun , bagaikan kata bijak yang diungkapkan oleh seorang filsuf Jerman, Hermann Hesse : "In Order to achieve the possible you have to try the impossible". Atau kata bijak lain yang menyebutkan, sebuah hutan dimulai dari sebatang pohon.

Suatu proyek raksasa bisa bermula dari sebuah gagasan rakyat kecil saja. Tidak berarti bahwa gagasan pembuatan Dam serta pembangunan PLTA di Mahakam Basin tidak bakal bisa terwujud selain tetap menjadi wacana saja, sebab ketika Dam raksasa Three Gorges di sungai Yang Tse Kiang pun baru merupakan cetusan ide Dr Sun Yat Sen pada tahun 1919, realisasinya memerlukan waktu harnpir satu abad untuk sampai pada wujudnya yang sekarang, setelah melalui berbagai pertentangan sengit dan berganti-ganti pimpinan pemerintahan . Sampai sekarang pun, di mana dam raksasa itu sudah berdiri, beroperasi dan membuahkan manfaat yang tak ternilai, kaum oposan Three Gorges masih terus berteriak-teriak.

Pendek kata, buku ini diharapkan dapat berguna sebagai salah satu kajian ataupun tambahan inspirasi bagi pembangunan daerah hulu Mahakam di Kutai Barat pada skala makro, oleh siapa pun yang memegang kendali pemerintahan secara yuridis formal. Mulai dari pemikiran pola pengembangan infrastruktur daerah hulu Mahakam menghadapi masa depan, peningkatan kualitas dan kualifikasi SDM, sampai kepada gambaran, uraian rencana dan gagasan yang mungkin diujudkan berdasarkan potensi alam yang tersedia melimpah di sana.

Ide dan gagasan dalam bagian ketiga buku ini dapat dijadikan platform bagi siapapun yang ingin membuktikan diri -apa pun suku, agama dan daerah asalnya- mampu menjadi pemimpin pengemban tugas pemberdayaan rakyat hulu Mahakam secara nyata dan bersungguh-sungguh.

Akhirul kata, penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya terbitan buku ini seperti: DR. Ir. H. Siswono Yudo Husodo, Ir. Ramadon MA dari PLN, Ir. Tagor Pane MSc. dari Dep.PU, Ir. Hendarmin dari Dep. Perhubungan, Direktorat Perhubungan Udara, yang memberi konsultasi dan data pada kami mengenai hal-hal keteknikan sesuai dengan profesinya. Juga pada Sinarmas Djati yang memberikan sejumlah foto dokumentasi hasil dari berkali-kali petualangan ekspedisinya di Mahakam bersama team Harvard University.

Juga kepada Nia Titiek Hariati yang selalu mendampingi penulis sebagai sekretaris & juru keuangan, M Jamaluddin di Salikpapan yang membantu seksi dokumentasi. Selain itu, kepada berbagai pihak yang berkenan memberi bantuan keuangan dan material penyusunan buku ini, jasa Anda akan dikenang oleh masyarakat hulu Mahakam selamanya.

Tak lupa kepada Simon Devung yang memberi masukan dan menyempatkan diri menerima team buku ini, Syachran Eric Lenyoq yang memberikan masukan bahan mengenai Kabupaten Kutai Sarat, Gustaf Jonanthan dalam urusan kehumasan, L.A.F Tanasale dalam bidang akutansi keuangan, Ding Yuan, Belawing di Long Pahangai, Syahrun di Tukul , Para kepala Adat dan Adat Besar, Kepala Kampung dan masyarakat Hulu Mahakam lainnya, yang memberikan masukan dalam proses pengumpulan data Hulu Mahakam.

Demikian juga keluarga, saudara-saudara, teman dan rekan yang berpartisipasi, memberikan bantuan sedikit-banyak dalam proses pembuatan buku: Yulia Siswaningsih yang turut pada riset kepustakaan pad a awal buku ini direncanakan (tidak melanjutkan karena sibuk bekerja), Taufan Sangiang M dan Nila di Samarinda, Muchlis Sidik di Sanga-sanga yang meluangkan waktu untuk menjelaskan kisah-kisah pengalaman perjuangan pada zaman pendudukan Jepang yang di alami, H. Yusuf Ubay di "Toko Panjang" Long Iram salah seorang nara sumber yang selalu bersemangat memberikan keterangan.

Juga kepada rekan-teman dan pihak yang tidak mungkin kami sebutkan satu per satu, penyusun sekali lagi menghaturkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang diberikan dengan tulus dan ikhlas sehingga terwujudnya buku ini.

Atau hubungi saya untuk pemesanan dan info lain : tsm_borneo@yahoo.com


Jakarta, Januari 2005

Penulis : Flora Inglin


Wednesday, July 27, 2011

Media Indonesia - Kasus Kekerasan Atas Nama Agama Meningkat

Media Indonesia - Kasus Kekerasan Atas Nama Agama Meningkat


Penulis : Tosiani
Sabtu, 23 Juli 2011 19:35 WIB






MAGELANG--MICOM: Kasus kekerasan atas nama agama terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Kasus kekerasan antara lain dilakukan dengan penutupan, penyegelan, dan pengrusakan tempat ibadah, serta penyerangan terhadap umat.

Fakta tersebut mengemuka saat seminar Penghayatan Imamat dalam Wawasan Pluralisme di Seminari St Petrus Kanisius, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (23/7). Ketua Moderate Muslim Society (MMS) Zuhairi Misrawi, menyebut, sedikitnya ada 59 kasus kekerasan terhadap agama pada 2009. Jumlahnya meningkat cukup significant pada 2010 menjadi 81. Dari 81 kasus itu, 49 atau 60% diantaranya terjadi di Jawa Barat. Sedangkan dari semua kasus itu, 34 kasus menimpa umat Kristen, dan 26 kasus menimpa Jamaah Ahmadiyah. "Kekerasan sebagian besar dilakukan oleh massa yang identitasnya tidak diketahui secara jelas. Sebagian lainnya dilakukan oleh aparat. Aksi intoleransi ini bisa mengancam keselamatan umat saat tidak berada jauh dari tempat ibadah dan sama sekali tidak sedang menjalankan ibadah," kata Zuhairi. Anggota Komisi II DPR RI Basuki Tjahaja Purnama menganggap pemahaman yang keliru umat terhadap ajaran agamanya membuat Pancasila tidak lagi cukup sakti untuk menaungi dan menenangkan situasi Indonesia yang sarat keberagamaan. "Konflik dan kesalahpahaman yang terjadi di Indonesia termasuk yang menyangkut soal agama dipicu oleh karakteristik kebanyakan masyarakat dan pemerintah yang memiliki paham keliru dalam masalah agama dan kepercayaan," katanya. (TS/OL-04)

KEKERASAN DI BATIN KITA....


Kamis, 30 Desember 2010 09:05 WIB


Bukanlah demokrasi yang memerintah di dunia ini. Fakta yang lebih baik Anda benamkan di kepala Anda: dunia ini diperintah oleh kekerasan. Tapi kupikir, hal itu lebih baik tidak dikatakan. Bob Dylan

Ketika tulisan ini dibuat, dua bersaudara kandung, Korea Utara dan Selatan, untuk ke sekian kalinya tengah berhadapan dalam tensi tertinggi, siap untuk sebuah peperangan terbuka. Di balik mereka, kekuatan raksasa Amerika Serikat dan China pasang kuda-kuda, di belakang negara “binaan” mereka masing-masing, semata untuk gengsi dan kepentingan ekonomi-politik nasional mereka. Dunia pun menanti dengan cemas. Setelah bencana ekonomi, bencana teknologi, bencana alam, hingga bencana kebudayaan datang silih berganti, bencana militer (perang) –dalam skala yang lebih luas—pun kini menanti.

Kekerasan memang belakangan ini menjadi salah satu wajah terkuat dari peradaban mutakhir yang kita jalani dan bentuk saat ini. Dan negeri kepulauan, dimana nyiur melambai, senyum bertebaran, dan “tongkat kayu menjadi tanaman”, ini pun tidak dapat mengelak dari citra dan fakta yang serupa. Kekerasan dalam berbagai tingkat dan dimensinya bukan lagi menjadi renda-renda berita, namun hampir menjadi rutin dari headlines media massa kita, di semua matranya.

Apa yang membuat miris bahkan giris adalah realitas kekerasan negeri ini yang hampir tak terbayangkan, bahkan melampaui kemampuan imajiner seorang sastrawan, melampaui sejarah kekerasan itu sendiri, hampir tanpa preseden. Bagaimana Anda menerima kenyataan seperti yang dilakukan seorang anak lelaki, yang menusuk pinggang kemudian leher (dari depan) ibunya sendiri karena tidak mendapatkan uang yang diharapkan? Bagaimana kita menerima kenyataan seorang ibu yang memelintir leher bayinya sendiri yang baru saja ia lahirkan untuk kemudian ia larungkan di sebuah sungai yang pekat dengan segala racun?

Bagaimana Anda menerima seorang ayah yang menghamili anaknya sendiri hingga hamil berulangkali? Bagaimana kita menerima kenyataan seorang ibu yang dengan sadar dan teguh menuangkan berkaleng minyak tanah ke kedua anaknya yang tengah tidur lalu membakarnya? Bagaimana…? Bagaimana Anda dapat hidup, bekerja, berimajinasi, memimpikan hidup indah di masa datang, dengan kekerasan (violence) yang dibalut kekejian (cruelty), di tengah cengkeraman kebutuhan dan ancaman peradaban yang kian mencekam ini? Apakah bukan, sebenarnya, kekerasan itu tengah menghampiri Anda? Atau boleh jadi sedang tumbuh dengan perlahan di dalam hati, dalam batin kita sendiri?

Masyarakat yang Patetik

Fenomena kekerasan belakangan ini, barangkali belum pernah dialami oleh bangsa ini, setidaknya sejak masa perjuangan kemerdekaan. Kekerasan yang terjadi pada masa revolusi fisik mungkin menjadi trauma atau pengalaman heroik tersendiri. Pada masa itu –dan terlegitimasi hingga saat ini—seluruh elemen bangsa bukan hanya memaklumi, tapi juga menerima bahkan sebagian besar merasa sebagai sebuah kewajiban untuk –mau tak mau—terlibat dalam kekerasan sebuah perang. Tidak lain karena adanya sebuah alasan yang kuat dan kolektif: merebut kemerdekaan.

Namun di belakangan hari ini, alasan itu seperti lenyap, kecuali kekerasan yang terjadi karena alasan-alasan yang bersifat kriminal. Banyak kekerasan terjadi hampir tanpa diiringi oleh penjelasan yang cukup rasional dari pelakunya, kecuali semacam impuls emosional atau psikologis yang tidak dapat mereka kendalikan, yang memaksa dan mendorong mereka untuk melakukannya. Dalam kenyataannya memang bukanlah sang pelaku, terlebih korban, yang harus menjelaskan realitas apa di balik tindak kekerasan itu, yang mendorong kekerasan itu. Tapi para cendekiawan, dan terutama mereka yang bertanggungjawab pada keamanan dan kenyamanan sosiallah yang harus menjawabnya. Pelaku, korban, dan publik terlalu pepat oleh tekanan hidup untuk dituntut memberi argumentasi untuk tindakan-tindakan yang sebagian hanyalah efek atau ekses dari keadaan yang terlalu rumit untuk mereka mengerti.

Kenyataan ini pun berlaku pada sekelompok orang yang menciptakan stempel bagi dirinya sebagai pelaku kekerasan sistemik. Entah itu yang dilakukan oleh aparat pemerintah (tentara, polisi, satpol PP, dll) maupun oleh komunitas atau organisasi-organisasi massa yang memberi topeng ideologi (bisa berbentuk agama) bagi aksi kekerasan membela kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi para pemimpinnya. Semacam peristiwa terakhir, dimana kelompok yang bertameng religius menyatakan akan mengerahkan ribuan pengikutnya di bandara Tangerang hanya untuk mencegah datangnya bintang film porno, Miyabi, dari Jepang. Tindakan yang tidak mereka lakukan, saat ratusan pelacur asing masuk ke Indonesia, atau ribuan pelacur Indonesia diterbangkan ke berbagai kota juga mancanegara.

Tindak kekerasan yang sporadis itu, bukan hanya dilandasi oleh nafsu publikatif dan selebratif, dimana kekerasan kemudian menjadi konsumsi hangat dan isyu seksi yang mengangkat performa sebuah kelompok. Tapi sebenarnya juga lebih dilandasi oleh kenaifan –sebagian besar—pengikut kelompok itu akan political game dan economical impact dari tindakan-tindakan itu. Lebih mendasar lagi, tindakan tersebut juga dilandasi oleh ketidakmengertian mereka tentang kenapa kekerasan itu dengan mudah mereka lakukan, bahkan kadang hampir tanpa sebab rasional sama sekali, kecuali sekadar pelampiasan nafsu “unjuk diri”, premanisme, atau semacam “dendam sosial” yang samar bentuknya bagi mereka.

Kesamaran bentuk itu sesungguhnya muncul dari, bisa pula menghasilkan, semacam kondisi psikologis yang patetik. Kondisi kejiwaan dimana seseorang, bisa juga secara kolektif, mengalami disorientasi dan dislokasi. Sebuah état di mana seorang manusia tidak memahami dari mana dan mau kemana hidup dan dirinya harus melangkah; tidak memahami realitas juga eksistensi dirinya sendiri. Karena seluruh acuan yang selama ini dapat digenggamnya telah lumer dibenturkan oleh acuan-acuan baru yang datang seperti tsunami ke ranah personalnya, menenggelamkan individuasinya.
Pada gilirannya, situasi atau état itu akan mendorong terciptanya sebuah bangsa yang juga patetik, dalam hal tertentu skizofrenik.

Empat Kondisi Penyebab

Bagaimana realitas kemanusiaan kita sampai di situasi seperti itu, antara lain, diakibatkan oleh adanya beberapa kondisi obyektif yang berlaku di negara kita belakangan ini. Beberapa kondisi itu antara lain, pertama, kondisi ekonomi, ditandai oleh sistem dan praktik ekonomi –terserah sebutan dan julukannya—yang menempatkan setiap manusia dan publik awam dalam situasi persaingan yang hanya “sehat”, “fair” dan “bebas” dalam jargon atau retorika politik-teoritik saja. Dalam kenyataannya, persaingan itu tidaklah bebas, fair dan sehat, karena sumber-sumber utama dari ekonomi sudah lebih dulu dimiliki, didominasi dan dikangkangi secara paksa oleh segelintir orang (elit) melalui rekayasa dan manipulasi hukum dan aturan-aturan. Bahkan dapat dikatakan, ketidakadilan dan ketidakseimbangan kompetisi itu sebenarnya sudah berakar dalam premis-premis dasar dari teori dan ideologi yang melatarbelakangi sistem itu (tentu perlu kertas tersendiri untuk menjelaskan hal ini).

Kondisi ini membuat setiap insan di negeri ini (dalam jumlah yang mayoritas) sebenarnya secara logis dan sistemik sudah disingkirkan dari usaha peraihan atau perebutan kesejahteraan. Tak ada kemungkinan kompetisi sehat, fair dan bebas, di antara pedagang dengan modal Rp10 juta, Rp10 miliar dan Rp10 triliun, bukan hanya karena perbedaan mencolok dalam kuantitas modal, tapi juga kualitas jaringan, relasional, akses infrastruktur, posisi tawar pada kebijakan dan sebagainya yang sangat timpang. Akhirnya, manusia umum memang harus mengambil posisi hanya sebagai obyek dari nafsu kapital pemilik modal besar; kemiskinan pun jadi sistemik bahkan sebagian dirasakan taken for granted.

Di titik inilah tragedi itu terjadi. Sebagai produsen, manusia dilumpuhkan, namun sebagai konsumen ia dieksploatasi dengan penciptaan kebutuhan hidup yang luar biasa dahsyatnya, luar biasa menggiurkannya, sehingga ia menjadi ukuran atau acuan tetap bagi gengsi, prestise bahkan eksistensi. Konflik di luar pun menjadi konflik di dalam diri manusia, ketika kemampuan semakin tertinggal oleh kebutuhan. Frustrasi yang timbul kian mencekat dan membuat setiap manusia didesak untuk berbuat menyimpang bahkan jahat, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang telah dikonstruksi para subyek.

Kedua, kondisi sosial, belakangan ini juga ditandai oleh semacam frustrasi yang akut, ketika masyarakat mengetahui hidup ekonomis mereka sudah ditaklukan dan tereksploatasi habis-habisan di atas harus dihadapkan lagi dengan realitas sosial yang sama sekali tidak mendukung, bahkan justru menelikung. Berbagai tatanan sosial yang secara tradisional sebenarnya tangguh bertahan selama ratusan tahun, kini perlahan remuk oleh tatanan baru yang sesungguhnya rapuh karena ia virtual dan artifisial.

Hidup sosial semakian membuat manusia merasa sendiri, ketika semua orang cenderung membela kepentingannya masing-masing, dan semakin tak mampu berbuat untuk orang lain. Sementara pihak-pihak yang selama ini dapat menjadi gantungan moral atau material juga ternyata sudah menepiskan diri. Para pemimpin formal dan informal, negara dan aparatusnya malah justru memperdaya nasib dan hidup rakyat alih-alih melindungi dan berusaha mengupayakan kesejahteraan.

Itulah kondisi ketiga, kondisi hukum yang ditandai oleh semakin luas dan dalamnya penyimpangan yang dilakukan justru oleh mereka yang seharusnya mengoperasikan dan menjadi keberlangsungan supremasi hukum. Para pejabat hukum berkonspirasi hanya untuk menipu kepentingan publik demi kepentingan (golongan) mereka sendiri. Atas nama hukum mereka menghisap jatah rizki masyarakat, mengooptasi sumber-sumber daya utamanya, dan mengorbankan rakyat sebagai obyek atau budak dari nafsu-nafsu dunia dan primitif mereka. Sebuah kondisi yang membuat sekoci hidup masyarakat bukan hanya terancam badai hebat tapi juga kehilangan harapan untuk diselamatkan.

Pada saat yang bersamaan, kondisi politik, sebagai hal keempat menempatkan rakyat pada keputusasaan yang holistik ketika mereka mendapatkan pemerintah yang mereka pilih sendiri, ternyata lebih sibuk mengurusi ambisi permanensi kekuasaan mereka. Permainan jahat yang terjadi di lingkaran kekuasaan membuat pemerintahan politik kehilangan kemampuan untuk melaksanakan tanggungjawab utamanya: mengurus negara, menjamin keamanan dan kesejahteraan warganya. Segala bidang kehidupan terasa hambar karena pemerintah gagal mengurusnya, tidak berhasil menyelesaikan substansi-substansi persoalan di semua bidang pemerintahan dan secara kontradiktif mereka melakukan klaim tiada habisnya pada sukses-sukses artifisial dan superfisial yang ditandai oleh angka, statistik atau parameter material yang menjemukan.

Semua kondisi di atas berkelindan hampir secara ajaib dan tak terelakkan, menciptakan sebuah realitas baru yang dalam kemampuan manusia rata-rata (awam) sangat sulit bahkan tidak mungkin dapat dikonstitusikan. Realitas itu hablur bersama dengan kenyataan-kenyataan virtual yang tiada hentinya disodorkan sampai di piring sarapan hingga selimut untuk kita tidur. Manusia pun tenggelam dalam mimpi dari dunia bawah sadar yang khaos, menciptakan imaji-imaji ganjil, gairah dan hasrat yang primitif dan kadang tak terkenali, dan impuls-impuls emosional hingga spiritual yang tak terkendali.

Kekerasan Menjadi Adab

Di tahap kehidupan seperti inilah, kekerasan pun mengambil peran dan bentuknya, sebagai sebuah pelampiasan dan pelarian yang paling mungkin dari frustrasi yang akut, hidup yang tak terjelaskan, dan imaji yang ganjil itu. Kekerasan sebagai sebuah bentuk ekspresi individu atau masyarakat yang patetik pun menjadi konsekuensi logis dari kerasnya hidup yang didera kebutuhan hebat dan ancaman pekat, serta akibat dari kekerasan yang dilakukan oleh negara (cq pemerintah dan aparatusnya) yang melakukan pembiaran serta kecerobohan serta kesemberonoan dalam pelaksanaan tanggungjawabnya.

Kekerasan itu juga sebuah konsekuensi tak terhindarkan kompetisi dan pertarungan yang kejam dalam ranah politik, ekonomi dan hukum, dimana kekuat(s)an menjadi variabel utama untuk memenangkannya, menjadi pihak yang mendominasi. Pertarungan kekuasaan sebagai bentuk baru dari survival of the fittest lebih mendorong setiap pihak untuk menaklukan, mendominasi dan mengooptasi pihak lain, bukan untuk bekerjasama dan melahirkan harmoni. Sampai di tingkat terkecil, ketika kekuasaan dan kekuatan seseorang begitu minimnya, kekerasan pun dilakukan pada kerabat atau keluarga yang paling lemah: saudara, istri, bahkan anaknya sendiri. Hingga pada taraf ketika tak ada lagi pihak yang lebih lemah dari dirinya, seseorang akan melakukan kekerasan itu pada dirinya sendiri. Bunuh diri adalah salah pengejawantahannya.

Kekerasan pun kemudian menjadi adab tersendiri, menjadi sebuah pilihan kultural yang negatif. Kebudayaan yang pada mulanya adalah sebuah perjuangan manusia untuk mencapai kemuliaannya, menciptakan kemajuan hidup yang positif, kini bergeser menjadi semacam ketakutan yang mencekam terhadap hidup itu sendiri. Kecemasan manusia, secara sosial, emosional dan spiritual yang dahulu ditujukan pada kematian, kini berbalik menjadi ketakutan akut pada kehidupan sendiri. Dan kematian bukan lagi sebuah momok atau hal yang mengerikan, bahkan cenderung menjadi sebauh jalan eskapik yang paling mungkin atau malah justru diinginkan.

Tak ada jalan lain untuk keluar dari situasi ini, kecuali melakukan terapi psikologis secara habis-habisan dan massif. Bukan hanya pada tingkat personal, tapi lebih tepat secara nasional, bahkan kebudayaan itu sendiri yang harus diterapi. Dan untuk terapi semacam ini, tidak ada lagi perangkat yang lebih baik kecuali kebudayaan itu sendiri yang harus digunakan. Bila di pihak pertama adalah kebudayaan negatif makan di bagian terapinya adalah kebudayaan positif.

Apa yang sangat menarik dari usaha ini adalah, kebudayaan positif itu tidaklah datang dan ada di luar diri kita, di luar tanah dan air kita, yang ternyata terbukti menjadi stimulus dari semua kondisi menggiriskan di atas. Kebudayaan positif itu ada dalam diri kita sendiri, dalam sejarah kita, dalam alam dan relasi-relasi yang terjadi di antaranya. Kebudayaan yang sebenarnya sudah dikreasi, dipertahankan, diwariskan dan dikembangkan selama lebih dari tiga ribu tahun di negeri ini. Kebudayaan yang kita sendiri tahu bahwa di situlah sebenarnya tempat muasal semua acuan kita. Tempat paling primodial dimana semua manusia Indonesia ingin kembali, bertaut dan menegaskan eksistensinya.

Kebudayaan seperti apakah itu? Kebudayaan yang terpapar dalam buku-buku teks sekolahan atau penjelasan-penjalasan pseudo-ilmiah para peneliti luar negeri? Tentu saja bukan. Tentu saja bukan. Bagaimana jelasnya? Kertas ini membutuhkan lembaran yang lebih panjang lagi. Tentu saja.

Radhar Panca Dahana, Budayawan, Sastrawan dan Pekerja Teate