MISTERI HANTU ORANG DI PEDALAMAN MAHAKAM
Tak seorangpun bisa menjelaskan bagaimana kisah mengenai misteri “Hantu Orang “ ini berkembang sehingga semua orang dikampung kami percaya bahwa memang benar adanya kisah tersebut.
Ketika pertama kali pulang ke kampung kami aku juga tak percaya dengan kisah yang hampir tak masuk akal ini.Mana mungkin manusia atau orang menjadi hantu, bukan seperti setan atau cerita roh orang yang katanya sudah mati bisa muncul lagi kedunia menampakkan dirinya kepada manusia yang masih hidup.Tetapi ini beda hantu yang satu ini dinamakan “hantu orang“ karena yang menjelma menjadi hantu itu adalah manusia yang menguasai semacam ilmu sesat dimana sekali waktu ia bisa menjadikan dirinya hantu yang menakuti orang atau mengganggu orang-orang yang sakit atau wanita yang habis melahirkan.
Menurut cerita hantu ini menghisap darah bagai drakula atau semacamnya membuat orang-orang yang keluarganya ada yang sakit parah atau baru melahirkan berusaha untuk mengusir gangguan hantu orang ini. Bermacam cara untuk mengusir sang hantu orang ini ada yang memanggil orang pintar dengan cara membakar semacam kulit kayu yang baunya sengit atau membakar segenggam merica yang masih utuh dimasukkan keperapian. Sang hantu orang ini tidak tahan dengan bau yang menyengat ini dan tunggang langgang menjauhkan diri. Ada juga dengan cara membaca mantera yang dimulai dengan Bismillah dan menyebut-nyebut nama Allah Yang Maha Akbar rupa-2 ia juga takut akan hukuman Allah. Berarti dia juga termasuk mahluk Allah hanya saja salah jalan. Begitulah kira-2 perkiraanku.
Bukankah di Bali juga terkenal dengan kisah “Leaknya”, nah kalau dikampung atau daerah kami terkenal dengan hantu orang ini. Selain dari itu ada juga cerita lain mengenai “hantu kuyang” yang banyak terdengar didaerah kami Kalimantan ini tetapi aku tidak membahas tentang kisah “hantu kuyang” ini.
Bercerita tentang “hantu orang“ ini aku ingin menceritakan sebuah pengalamanku dan adikku mengenai ‘hantu orang “ yang sampai sekarang masih merupakan sebuah misteri yang sulit dipercaya. Tetapi kisah ini adalah sebuah kenyataan dan kami mengalaminya dengan terjadinya sebuah cerita pahit.
Aku mempunyai seorang adik perempuan yang tidak mudah percaya dengan kisah-kisah aneh ini. Dia lama hidup dirantau bersama suaminya dan suatu saat kembali ke kampung halaman sedangkan suaminya kembali ke pulau Jawa. Ia sedang hamil anak pertama dan ingin melahirkan berdekatan dengan ibu dan ayah kami. Kami tinggal dirumah dinas ayah di kota kecil kami Long Iram, rumah tua ini adalah peninggalan zaman Belanda terbuat dari kayu ulin beratap sirap. Ada tiga buah kamar keluarga didepan berseberangan dengan kamar tamu ada sebuah kamar khusus untuk tamu dinas ayah seperti Gubernur, Panglima dan Pejabat pemerintah yang berkunjung ke daerah kami.
Untuk perumahan dizaman sekarang ini memang aneh rasanya bila sebuah rumah yg cukup besar tetapi dapur, ruang makan dan kamar mandi jauh kebelakang melalui sebuah los atau gang yang memanjang, disana juga terdapat kamar untuk pembantu jelasnya rumah induk jauh terpisah. Untuk menuju kebelakang kita melalui gang yang panjang tak berdinding, yah....kalau siang hari tentu enak-enak saja tetapi dimalam hari tanpa penerangan misalnya sungguh sangat menyeramkan. Terutama bagi kami anak-anak perempuan.
Oh ya....aku lupa ketika itu Long Iram diperintah oleh seorang Controlier Belanda dengan anak buahnya. Jadi ayahku dan kami isteri dan anak-anak menempati bekas rumah Controlier Belanda itu. Demikian pula pejabat-2 terdahulu dari ayah tinggal dirumah ini.
Hari itu ayah ibu akan berkunjung ke sebuah perkampungan dalam tugas dinas ayah, namanya kampung Kelian. Di daerah ini terkenal dengan tambang emas rakyat, banyak kaum pendatang ikut berusaha mencari dan mendulang emas ditempat itu, ayah berpesan agar kami berhati-hati sepeninggal ayah dan ibu maklumlah adikku Norma sedang berbadan dua dan ia suka berbuat seenaknya tanpa memikirkan kandungannya. Agar kami tidak terlalu kesepian seorang saudara sepupu kami bernama Telen Ding bersama kedua anaknya menginap dirumah.
Sore itu aku dan adikku duduk-duduk diberanda rumah, sepupuku Telen Ding mengurus kedua anaknya dikamar.
“Kau harus ingat Nor pesan mamak, hati-hati dengan kandunganmu, Ini adalah anak pertamamu pasti suamimu sangat mengharapkan kehadiran putera atau putri kalian.” Kataku seraya memandang wajahnya dengan serius.
“Iyalah kak aku mengerti, tetapi aku masih tak yakin dengan kisah yang kudengar kemarin, mana ada ada manusia bisa dan mau jadi hantu,” katanya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan majalah yang ada ditangannya
“Kembali kesitu lagi pembicaraanmu.Bagaimana ya aku meyakinkan kau agar percaya dan waspada!. Ada pepatah mengatakan “dimana saja kita berada langit tetap dijunjung”, ujarku sambil menatap tajam kearahnya.
“Aku ini pernah sekolah dikebidanan meskipun tak dapat kulanjutkan karena harus menikah, jadi aku sudah kebal dengan kisah-kisah begini jadi tak usah khawatir ya kak.” katanya sinis.
Tiba-tiba terdengar suara diserambi berdehem, aku dan Norma terkejut sama-sama melihat kedepan.
“Oh .....nenek Nilam mari masuk nek.” Sapaku hormat, beliau adalah teman dan mungkin masih kerabat keluarga kami ibuku sering menerima kunjungannya sehingga beliau tak asing lagi dirumah kami. Meskipun sudah tua tetapi tubuh kurusnya masih tegak. Sambil menarik selendangnya keatas bahu dan memegang erat keranjang kecilnya yang terbuat dari rotan ia langsung keruangan dimana ibuku sering menerima beliau. Ia duduk disudut ruang tempat dimana ia selalu duduk bila bersama ibu, keranjangnya diletakkan disampingnya kemudian ia menatap aku dengan mata penuh pertanyaan.
”Nek, ibu dan ayah ke Kelian beberapa hari ini duduklah dulu, aku ambilkan minuman”. Untunglah aku telah membuat kopi diteko besar untuk kami minum bersama Telen Ding nanti malam.
”Ibumu tak bilang kalau mau ke Kelian mestinya aku tak datang. Tetapi ada obat yang ingin kuminta pada ibumu, biar nanti sajalah. Aku lihat ada orang baru siapakah dia ?” tanyanya ada nada heran.
“Oh...itu Norma adikku nek, baru datang dari Jawa, ia ditinggal suaminya sementara disini.” Jawabku sambil merasakan sesuatu yang mengganjal dihatiku.
“Adikmu cantik rupanya ia hamil muda ya. Aku kalau melihat orang hamil muda seperti melihat ketimun muda “ katanya sambil tertawa perlahan.
“Ah nenek ini ada-ada saja, kok nenek tahu dia hamil kan perutnya masih kecil,” kataku heran dan curiga.
Tiba-2 Norma lewat didepan kami langsung kebelakang menuju ke gang. Ia tak menyapa kami tetapi aku tak heran dengan sifat adikku ini dia memang acuh. Si nenek mulai mengeluarkan sirih pinangnya dan mulai mengapur sirih dengan kapur sirihnya, sirih pinang dimasukkan kedalam bumbung lalu ditumbuk dilumatkan memang giginya sudah rapuh karena usia sehingga semuanya harus dihancurkan. Semuanya dimasukkan kedalam mulutnya, tetapi tiba-2 dia tampak terkejut dan pucat. Aku juga tersentak dan terkejut bau yang aneh menyebar sekitar kami. Aku kenal aroma itu bagai disengat si nenek tiba-2 memegang kepalanya dan berlari keluar.
”Kepalaku pusing aku pulang Paula”, katanya sambil berlari tertatih-tatih. Aku mencari arah datangnya bau terbakar itu dan aku sudah bisa menduga perbuatan siapa. Dipintu masuk aku hampir bertabrakan dengan Norma yang tertawa-tawa memegang sepotong kulit kayu yang terbakar.
”Rasain”, katanya sambil tertawa ”Berarti benar dia mempunyai ilmu itu.”
“Astagfirullah Norma apa yang kau lakukan?, kau telah memulai peperangan ini mengapa....?” kataku kebingungan.
“Ah kak jangan diperbesar masalah ini, bukankah nenek itu yang mulai, mengapa aku disamakan dengan timun muda segala,” katanya marah.
”Ya.....,tetapi kita ini sendirian, mamak tidak ada kalau ada apa-2 nanti bagaimana .” kataku setengah marah dan kesal.
“Ah tak ada apa-2 koq kak aku jamin dia sudah pergi terbirit-birit.” Sahut adikku dengan nada menang.
Telan Ding juga kebingungan namun tak bisa berbuat apa-2 sementara senja sudah membuat alam sekitar kami mulai gelap. Telen telah menyalakan petromaks untuk digantung digang karena kami harus makan malam dulu sebelum masuk kerumah dan istiahat.
Semua kamar cukup dengan lampu dinding. Maklumlah pada masa itu PLN belum ada dikampung kami kecuali bila ada tamu barulah diesel dinyalakan. Kami cepat-2 makan malam lalu masing-2 kekamar mandi dulu, kemudian Telen mengajak kedua anaknya masuk dan menidurkan mereka dikamar.
Aku dan Norma juga masuk kekamar tetapi Telen mengajak kami duduk-duduk diruang tengah dulu mungkin ia ingin bercerita tentang kampungnya. Kami bertiga asyik bercakap-cakap ketika terdengar ada suara langkah kaki digang luar kearah paviliun kemudian terdengar antara ia dan tidak suara tertawa tertahan. Kami bertiga sama-sama terkejut heran koq suara tertawa itu tak wajar, Telen Ding berdiri menuju kepintu cepat kutarik tangannya. Aku berbisik “Jangan Telen, kita semua perempuan siapa tahu orang jahat.” kataku perlahan. Adikku diam saja memandang tingkah kami entahlah apa yang sedang dipikirkannya.
Telen Ding berbisik kekupingku “Aku takut Paula. jangan-2 “hantu orang”. katanya.
”Paula, kaukan hafal mantera yang diajarkan tante coba kau praktekan, aku belum hafal benar.”
Aku segera mengambil segelas air kubacakan mantera itu lalu kusiramkan kelobang pintu tempat suara terdengar. Tiba-2 terdengar langkah berlari sambil berkeluh kesah .
”Kena dia Paula,” ujar Telen sambil tersenyum girang tetapi suasana ketakutan masih menghantui kami Norma juga tampak kebingungan tak tahu aku apa yang sedang dipikirkannya.
Setelah semua tenang dan tak terdengar lagi suara diluar akupun mengajak semuanya masuk kekamar masing-2. Tetapi Norma menarik tanganku.
”Aku tidur dikamar kakak,” katanya.
“Ya boleh saja.” jawabku lembut.
Mungkin terlalu payah kami semua tertidur nyenyak anak-2 Telenpun tidak terbangun seperti biasa
.
.
Tak lama terdengar kokok ayam bersahut-sahutan suara burungpun berkicau dengan riang. Aku melompat bangun langsung membuka pintu dan menuju keluar kearah gang. Selesai kekamar mandi dan membuka semua pintu-2 didapur aku kembali kerumah induk ketika tiba-2 kudengar suara mengaduh. Itu suara Norma ada apa dengannya ?
“Kak tolong aku, perutku sangat sakit. Tadi malam entah mimpi atau bukan kulihat nenek itu datang persis seperti keadaannya tadi siang. Mula-2 kulihat wajahnya seperti kak Paula dia bertanya macam-2. Apakah aku menyimpan bawang merah dan jeruk tipis? kujawab saja tidak kak,” ia masih merintih sambil bercerita. ”Kemudian wajahnya tiba -2 berubah menjadi nenek-2 tua itu dan menyeringai.” Norma menangis
”Cepat kak, panggil mantri Sadi dipaviliun sebelah mungkin aku keguguran.” Katanya terisak.
Benar-benar, tiba-tiba saja seluruh tubuhku lemas hampir saja aku pingsan. Mengetahui keadaanku adikku masih sempat tertawa sambil menahan tangisnya. Syukurlah Telen Ding telah berada didekat kami dia kusuruh memanggil mantri Sadi. Inilah kelemahanku yang diketahui Norma aku memang tak berani melihat orang melahirkan dan mengeluarkan darah.
”Sudahlah kak aku tak apa-2 mungkin kandunganku yang tak kuat,” katanya perlahan.
Mantri diiringi istrinya masuk kekamar dan segera menolong Norma. Istrinya dengan sigap membantu. Aku tak sanggup melihat sambil menangis aku menjauh. Sedih dan kasihan aku melihat keadaan adikku tetapi apa daya aku tak bisa menolongnya. Mantri Sadi mendekati aku.
”Tak tertolong dik Paula, dik Norma keguguran, anaknya masih muda dan sudah keluar.” Aku menangis sampai tubuhku terguncang penyesalan yang amat sangat melanda hatiku. Aku tak bisa menjaga adikku, apa kata ayah ibu kelak. Dan apa kata suaminya nanti ?.
Kak Paula sudahlah jangan menyesali diri, bukan kakak yang salah tetapi aku kak, aku tak mendengar nasehat kakak,” katanya sambil melambai kearahku. Aku masih gemetaran menangis Telen Ding dan istri mantri Sadi mengurus semua terutama jenazah si jabang bayi yang tak berdosa itu.
“Ia bayi lelaki,” ujar Telen kepadaku aku terkulai lemah hatiku benar-2 hancur, kulihat adikku tabah seakan-akan ia lupa akan penderitaannya.
Syukurlah siang itu ayah dan ibu sudah kembali dari kunjungan beliau, tetapi sangat terkejut mendengar dan mendapati keadaan kami. Tentu saja beliau sangat menyesal telah meninggalkan kami terutama adikku yang sedang berbadan dua. Ayah memakamkan si jabang bayi disamping rumah kami dibawah sebatang pohon waru.
Hati-2 kuceritakan peristiwa yang kami alami kepada ibu. Dan benar saja......beliau sangat marah, marah kepada temannya itu siapa lagi kalau bukan perbuatannya yang terang-2 menampakkan diri kepada adikku. Tetapi setelah mendengar sikap adikku kepada nenek itu ibu terdiam. Tetapi sejak itu terputuslah hubungan ibu dengan nenek-2 itu sampai akhir hayatnya.
Aneh juga ilmu sesat itu bukan menguntungkan tetapi merugikan dan bisa menghilangkan nyawa orang lain. Mungkin sejak itu adikku tak berani lagi seceroboh itu dan mulai percaya bahwa hal itu bukanlah mimpi tetapi benar-2 kenyataan. Sejak bayinya dimakamkan disamping rumah itu hampir setiap hari ia merenungi pusara kecil itu sambil menaburkan bunga diatasnya. Kasihan hanya itulah yang bisa kukatakan.
Tinggal kami menunggu kedatangan suaminya yang pasti akan menanyakan kemana putera yang telah dikandung sang istri. Norma berjanji untuk menghadapi pertanyaan suaminya.
”Ya Allah ampunilah dosa-2 kami dan terimalah jasat si jabang bayi dan berilah ia tempat dan kasih sayang yang tak sempat didapatnya dari kedua orang tuanya.” Doaku didalam hati.
SELESAI
Diceritakan kembali oleh : Flora Inglin
No comments:
Post a Comment