Letusan terbesar terjadi pada 10 April 1815 termasuk ke dalam index 7 VEI (Volcanic Explosivity Index) yang oleh para volkanologist disebut Sangat Luar Biasa (Colossal). Suara letusannya terdengar cukup jelas hingga Sumatera bagian barat yang secara geografis terletak 2.500 km sebelah barat Tambora. Getaran dan gelombang udara akibat letusan tersebut terasa hingga 800 km di Jawa bagian timur. Debu vulkanik terus berjatuhan secara gradual hinggal tanggal 17 April 1815.
Pemukiman yang terdekat dengan Tambora adalah Bima (65 km timur Tambora) dan Sanggar (40 km di timur pusar erupsi). Seorang Raja dari kerajaan kecil di Sanggar menggambarkan bahwa letusannya menghasilkan tiga kolom erupsi yang membumbung di angkasa membentuk kanopi. Desa Bima, seluruh rumahnya tertutupi oleh debu vulkanik. Bima dan Sanggar juga tersapu oleh gelombang tsunami yang meratakan pemukiman mereka, penduduk berbondong-bondong melarikan diri menuju ke tempat yang mereka anggap aman, sebagian besar diantaranya tewas akibat terjangan gelombang ini.
Dalam investigasinya, Raffles menemukan mayat-mayat manusia yang mengapung di lautan maupun di terhampar di daratan. Charles Lyell (1797-1875) dalam bukunya Principles of Geology menuliskan bahwa akibat letusan ini populasi penduduk 12.000 di Tambora tersisa hanya 26 individu. Heinrich Zollinger seorang misionaris pada tahun 1855 mengestimasi jumlah korban akibat letusan Tambora adalah sekitar 10.000 manusia.
Batu apung yang terbentuk akibat letusan sangat melimpah ditemukan di Laut Jawa. Selama hampir 4 tahun, batu apung ini masih bisa ditemui oleh kapal-kapal yang melintas perairan ini.
Erupsi Tambora juga menyebabkan perubahan cuaca di seluruh penjuru dunia. Di India, menyebabkan perubahan pola arah angin sehingga menyebabkan kekurangan hujan di sebagian besar daratan di India dan wabah kekeringan terjadi pada 1816. Kebalikannya, di Bangladesh pola angin yang membawa hujan menyebabkan bencana banjir pada bulan september. Hal yang serupa juga terjadi di China akibat luapan dari sungai Yangtze dan Yellow.
Kekeringan yang terjadi di India menyebabkan wabah penyakit kolera berkembang dengan cepat hingga ke Afganistan dan Nepal. Di Mekah dan Madinah wabah ini dibawa oleh para jemaah haji dari daerah sumber wabah. Pada tahun 1823, wabah kolera telah sampai di laut Kaspia dan sampai di Moskow pada 1830. Tahun berikutnya di Mesir, Kairo kehilangan 12% populasinya akibat wabah ini.
Data cuaca pada abad ke-19 mencatat terdapat perubahan iklim setelah letusan 1815. Pada 1816 tercatat suhu rata-rata di permukaan 10 derajat celcius turun dari normal. Pendinginan global ini terbentuk dari molekul gas sulfur dioksida letusan Tambora di angkasa yang terbawa oleh angin memenuhi atmosfer dunia dan berada di atas awan sehingga tidak tersapu oleh hujan selama beberapa tahun. Tudung gas asam sulfur ini menghalangi sinar matahari yang masuk dan mendinginkan suhu bumi.
Pada tahun 1816-1817 di Eropa pada saat musim panas suhunya tetap dingin dan basah sehingga perkebunan mengalami kegagalan panen. Hasilnya, kelaparan terjadi di Eropa terutama di perkotaan. Di Paris tercatat beberapa orang meninggal karena kelaparan. Hal yang serupa terjadi di Irlandia, yang terjangkiti juga dengan wabah tipus karena kondisi kesehatan yang buruk. Setidaknya 100.000 orang meninggal akibat wabah ini di Eropa.
Tidak ada yang paham penyebab perubahan cuaca, gagal panen, kelaparan selama bertahun-tahun. Banyak orang yang menuduh hal ini terjadi karena turunnya moralitas dengan menurunnya kedatangan orang di rumah ibadah. Beberapa menyalahkan sinar matahari, pendinginan es di Samudera Atlantik tetapi tidak ada yang menyalahkan letusan gunungapi yang terjadi separuh dunia jauhnya dari Eropa yang merupakan penyebab utamanya. 60 tahun kemudian setelah letusan Krakatau terjadi pada 1883, para ahli meneliti dampak letusannya barulah menyimpulkan hal yang serupa yang terjadi pada kurun 1816-1817 akibat letusan Tambora 1815.
Sumber tulisan dan gambar : Volcanoes in Human History (2002)
http://iwantolet.wordpress.com/2009/09/30/letusan-tambora-1815-%E2%80%9Csumber-bencana-yang-tidak-diketahui%E2%80%9D/
Link :
No comments:
Post a Comment