Monday, August 22, 2011

SEKAPUR SIRIH DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Bagian pertama buku ini tumbuh dari sebuah catatan tulis tangan yang dibuat oleh Lamaseude,seorang guru sekolah rakyat di Long Iram yang berasal dari suku Bugis, yang juga seorang pejuang di zaman transisi penjajahan Belanda – Jepang. Dibantu oleh HImang Hurai Kepala Adat Mamahak, Guru Kaya gelar Mas Macan Wono kepala SD negeri Tiong Ohang yang juga kepala adat suku  Auheng (Penihing) di Long Apari. Lamaseude juga mendapat bantuan dari W. Hirang Juk penilik sekolah di Long Pahangai  dan M Said Kepala Kampung Mamahak Besar yang kesemuanya telah lama berpulang.

Catatan dalam bahasa dan ejaan lama hampir sukar dipahami sangat menyulitkan penulis ketika menyusun buku ini. Namun, berkat bantuan beberapa rekan, catatan ini dapat disuguhkan menjadi seperti sekarang ini.

Sesungguhnya, catatan Lamaseude inl berasal dari ayah penulis, (aim.) Achmad Koesasi ketika beliau menjabat sebagai Wedana di Long Iram. Diperiksa, diberi tambahan bah an dan dibenarkan oleh paman penulis, Hj.Mochamad Yusuf (alm) yang bersama teman-teman dan saudaranya memang terlibat dalam kejadian-kejadian yang terdapat dalam catatan tersebut.

Catatan kemudian dilengkapi oleh penulis Flora Inglin, yang membentuk team peneliti dan penyusun untuk mengolah, membuatnya menjadi sebuah buku seperti yang sekarang ada di hadapan Anda. Selanjutnya, buku ini disusun oleh kelompok kerja yang diketuai oleh Gunanto Bimo yang sekaligus menjadi tenaga yang sangat berdaya guna sebagai periset, editor, desainer grafis dan fotografer.

Flora Inglin sendiri terlahir di Long Iram pada tanggal 10 Mei tahun 1938, tumbuh besar di daerah yang sekarang disebut kabupaten Kutai Barat, kini tinggal di Jakarta, bersama suaminya mendirikan dan menjadi ketua sebuah yayasan bernama: Yayasan Bina Putra Hulu Mahakam (YBPHM).

Flora Inglin terlahir sebagai anak pertama dari Achmad Koesasi dan Putri Ping, yaitu putri Ajang Djo, Raja Dayak di Long Lunuk, Kemudian Ping diangkat anak oleh Raja Dayak di Datah Lingei bernama Ding Ngo,yang dikenal dengan julukan Lawak Ireng. Putri Ping dipersiapkan sebagai calon raja Datah Lingei oleh ayah angkatnya, Ding Ngo. Putri Ping menjadi Kepala Adat dari suku Dayak Bahau setelah menikah dengan Ahmad Koesasi. Sampai saat ini Flora Inglin masih disambut dan dihormati oleh masyarakat Dayak di Hulu Mahakam - Kutai Barat.

Kecintaan Flora terhadap leluhurnya di hulu Mahakam demikian kuat, sehingga tidak mungkin mencegahnya untuk berbuat sesuatu bagi daerah asal suku ibunya. Apalagi melihat masyarakat hulu Mahakam yang terpuruk akibat keterpencilan lokasinya terpenjara oleh kiham-kiham yang sangat berbahaya antara Long Bagun sampai Long Tuyoq.

Pada zaman dahulu kiham-kiham di hulu sungai Mahakam memang berfungsi sebagai benteng alam yang melindungi suku-suku Dayak di hulu dari 'serangan' kerajaan Kutai.Tapi kini di dalam negara kesatuan RI, kiham-kiham itu berbalik fungsi menjadi penghabat kemajuan.

Di hari tuanya, Flora Inglin dengan YBPHM ingin membaktikan hidupnya pada daerah tumpah darahnya. Buku ini adalah salah satu sumbangannya. Dengan demikian sudah pada akarnya jika buku ini bermula dari suatu desa kecamatan yang bernama Long Iram.

Pada Bagian kedua, buku ini mulai membahas daerah hulu Mahakam. Mulai dari keberadaannya sekarang sebagai daerah yang terletak dalam Kabupaten Kutai Barat. Cakupan telaah meliputi aspek sosio-budaya dan merekam juga situasi peta politik dewasa ini di Kutai Barat. Bahasan buku juga antara lain menyisiri berbagai lapangan wacana yang berpengaruh terhadap potret hulu Mahakam masa kini seperti :

ü  Keberadaan Budaya suku oayak di zaman modern,
Bahwa kebudayaan Dayak yang sulit bertahan dari serbuan modernisasi yang bersenjatakan teknologi , dipaparkan dari hasil beberapa kali mengunjungi pedalaman Mahakam dan beberapa referensi yang berkaitan.
ü  Sumber daya Alam: Pertambanganl Potensi Bahan Galian, Pertanian, Generasi Muda dan Persoalannya, Transportasi, Pariwisata, SDM Kutai Barat dalam Pembangunan, Energi Listrik, Air Bersih, Komunikasi
Berbagai butir di atas dibahas selaras dengan berbagai data terkini yang berhasil diperoleh, ditambah dengan berbagai komentar dari pemerhati masalah Kubar.

Pada Bagian ketiga, buku ini hendak memberikan proyeksi ke depan kawasan hulu Mahakam secara terpadu, dari berbagai aspek yang dirasa bermanfaat bagi kawasan itu sendiri, maupun sebagai informasi dini bagi yang berkepentingan dengan pengembangan wilayah maupun dunia usaha di sana. Tinjauan mengenai potensi dan hambatan yang dihadapi wilayah hulu Mahakam meluncurkan buah pemikiran dan gagasan yang mungkin dirasa spektakuler ketika dicetuskan pada saat ini, namun gagasan itu sesungguhnya tidak membabi buta, karena gagasan-gagasan itu telah melalui proses pematangan, studi-pengkajian dan konsultasi maraton dengan berbagai pihak profesional yang melelahkan , bahkan menghabiskan dana survey dari kocek YBPHM sendiri yang sangat besar untuk memperoleh fakta dan data yang seakurat dan serunut mungkin sesuai dengan metode pendekatan yang cukup ilmiah.

Gagasan pembuatan bendungan besar (Dam) di hulu Mahakam pada mulanya merupakan wacana intelektual yang mengkristal dari Harry Moerdani , namun kemudian wacana itu ditunjang dengan hasil-hasil ekspedisi yang dilakukan oleh YBPHM, sehingga gagasan itu semakin menemukan bentuknya yang berdimensi.

Penggalian potensi sumber daya alam utama hulu Mahakam bermula dari potensi besar sungai Mahakam itu sendiri. Potensi-potensi berikutnya yang tergali keluar merupakan efek sertaan dari implementasi potensi utama tersebut. Sebut saja beberapa di antaranya seperti pengembangan bisnis pariwisata internasional secara menyeluruh, (meliputi pengembangan sarana, prasarana, pembukaan lokasi, pengelolaan industri kerajinan tradisional, kesenian asli dll.), pengembangan industry besar perikanan (fish mea~, pembukaan areal sawah baru secara total ekstensifikasi.Di samping potensi alam lain seperti pembudidayaan dan pengembangan sarang burung walet, penanganan hasil hutan untuk mencapai nilai tam bah yang optimal.

Seluruh sasaran utama dari setiap konsep yang dipaparkan dalam buku ini adalah melulu menuju dan berazaskan kepada pemberdayaan masyarakat hulu Mahakam secara gradual, terpadu dan terkendali. Oleh karena tanpa adanya manfaat langsung yang akan dirasakan oleh masyarakat hulu Mahakam, maka tujuan pokok sumbang saran,gagasan dan pemikiran dalam buku ini adalah akan sia-sia belaka.

Gagasan-gagasan dalam buku ini nanti hendaknya jangan hanya malah menjadi bahan orasi politik, tapi hendaknya dimanfaatkan sebagai landasan untuk benar-benar memajukan masyarakat hulu Mahakam yang jauh tertinggal dan tak berdaya menatap kekayaan alamnya yang melimpah terus digali dan disedot ke luar daerah mereka tanpa ikut menikmati.

Gagasan-gagasan dalam bag ian ketiga buku ini tidak bisa tidak akan menghasilkan wacana tentang perlu tidaknya eksploitasi hutan di bagian hulu Mahakam dan Boh dihentikan demi terciptanya kelestarian air untuk pembangkitan tenaga listrik sebagai sumber yang terbarukan.

Seperti pada umumnya suatu gagasan yang extraordinary, memerlukan suatu periode, waktu untuk mensosialisasikannya, mengalami berbagai kontroversi dalam perjalanannya, dan bahkan jika telah disetujui pun, perwujudan proyeknya secara fisik juga memerlukan tempo belasan bahkan puluhan tahun. Namun , bagaikan kata bijak yang diungkapkan oleh seorang filsuf Jerman, Hermann Hesse : "In Order to achieve the possible you have to try the impossible". Atau kata bijak lain yang menyebutkan, sebuah hutan dimulai dari sebatang pohon.

Suatu proyek raksasa bisa bermula dari sebuah gagasan rakyat kecil saja. Tidak berarti bahwa gagasan pembuatan Dam serta pembangunan PLTA di Mahakam Basin tidak bakal bisa terwujud selain tetap menjadi wacana saja, sebab ketika Dam raksasa Three Gorges di sungai Yang Tse Kiang pun baru merupakan cetusan ide Dr Sun Yat Sen pada tahun 1919, realisasinya memerlukan waktu harnpir satu abad untuk sampai pada wujudnya yang sekarang, setelah melalui berbagai pertentangan sengit dan berganti-ganti pimpinan pemerintahan . Sampai sekarang pun, di mana dam raksasa itu sudah berdiri, beroperasi dan membuahkan manfaat yang tak ternilai, kaum oposan Three Gorges masih terus berteriak-teriak.

Pendek kata, buku ini diharapkan dapat berguna sebagai salah satu kajian ataupun tambahan inspirasi bagi pembangunan daerah hulu Mahakam di Kutai Barat pada skala makro, oleh siapa pun yang memegang kendali pemerintahan secara yuridis formal. Mulai dari pemikiran pola pengembangan infrastruktur daerah hulu Mahakam menghadapi masa depan, peningkatan kualitas dan kualifikasi SDM, sampai kepada gambaran, uraian rencana dan gagasan yang mungkin diujudkan berdasarkan potensi alam yang tersedia melimpah di sana.

Ide dan gagasan dalam bagian ketiga buku ini dapat dijadikan platform bagi siapapun yang ingin membuktikan diri -apa pun suku, agama dan daerah asalnya- mampu menjadi pemimpin pengemban tugas pemberdayaan rakyat hulu Mahakam secara nyata dan bersungguh-sungguh.

Akhirul kata, penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya terbitan buku ini seperti: DR. Ir. H. Siswono Yudo Husodo, Ir. Ramadon MA dari PLN, Ir. Tagor Pane MSc. dari Dep.PU, Ir. Hendarmin dari Dep. Perhubungan, Direktorat Perhubungan Udara, yang memberi konsultasi dan data pada kami mengenai hal-hal keteknikan sesuai dengan profesinya. Juga pada Sinarmas Djati yang memberikan sejumlah foto dokumentasi hasil dari berkali-kali petualangan ekspedisinya di Mahakam bersama team Harvard University.

Juga kepada Nia Titiek Hariati yang selalu mendampingi penulis sebagai sekretaris & juru keuangan, M Jamaluddin di Salikpapan yang membantu seksi dokumentasi. Selain itu, kepada berbagai pihak yang berkenan memberi bantuan keuangan dan material penyusunan buku ini, jasa Anda akan dikenang oleh masyarakat hulu Mahakam selamanya.

Tak lupa kepada Simon Devung yang memberi masukan dan menyempatkan diri menerima team buku ini, Syachran Eric Lenyoq yang memberikan masukan bahan mengenai Kabupaten Kutai Sarat, Gustaf Jonanthan dalam urusan kehumasan, L.A.F Tanasale dalam bidang akutansi keuangan, Ding Yuan, Belawing di Long Pahangai, Syahrun di Tukul , Para kepala Adat dan Adat Besar, Kepala Kampung dan masyarakat Hulu Mahakam lainnya, yang memberikan masukan dalam proses pengumpulan data Hulu Mahakam.

Demikian juga keluarga, saudara-saudara, teman dan rekan yang berpartisipasi, memberikan bantuan sedikit-banyak dalam proses pembuatan buku: Yulia Siswaningsih yang turut pada riset kepustakaan pad a awal buku ini direncanakan (tidak melanjutkan karena sibuk bekerja), Taufan Sangiang M dan Nila di Samarinda, Muchlis Sidik di Sanga-sanga yang meluangkan waktu untuk menjelaskan kisah-kisah pengalaman perjuangan pada zaman pendudukan Jepang yang di alami, H. Yusuf Ubay di "Toko Panjang" Long Iram salah seorang nara sumber yang selalu bersemangat memberikan keterangan.

Juga kepada rekan-teman dan pihak yang tidak mungkin kami sebutkan satu per satu, penyusun sekali lagi menghaturkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang diberikan dengan tulus dan ikhlas sehingga terwujudnya buku ini.

Atau hubungi saya untuk pemesanan dan info lain : tsm_borneo@yahoo.com


Jakarta, Januari 2005

Penulis : Flora Inglin